Nomor unit penyimpanan stok (stock-keeping unit/SKU) membantu pengecer mengidentifikasi dan melacak produk. Pengecer mengandalkan SKU untuk mengambil barang yang dibeli dari gudang penyimpanan, menata barang dagangan, dan menyortir item berdasarkan faktor seperti harga, warna, dan ukuran.
Bagi bisnis kecil, SKU menyederhanakan operasional. Baik Anda menjalankan website e-commerce dengan inventaris besar maupun toko fisik dengan stok terbatas, memberikan SKU pada produk memudahkan Anda memenuhi pesanan secara efisien dan memberikan pengalaman pelanggan yang positif.
Dalam panduan ini, pelajari apa itu SKU produk, cara membuatnya, dan cara mengelolanya untuk menata inventaris Anda.
Apa itu nomor SKU?
Nomor unit penyimpanan stok (SKU) adalah kode alfanumerik yang diberikan pengecer untuk mengidentifikasi dan melacak produk tertentu dalam sistem inventaris mereka. Biasanya terdiri dari delapan hingga 10 karakter, SKU mengodekan atribut penting produk, seperti warna, ukuran, produsen, dan harga, sehingga memungkinkan pengelolaan inventaris yang presisi dan analisis penjualan.
SKU dibuat oleh masing-masing bisnis dan disusun sedemikian rupa agar informasi terpenting muncul lebih dulu. Hal ini memudahkan tim toko mengambil barang dengan cepat, dan memudahkan manajer menganalisis performa penjualan secara sekilas.
Berbeda dengan jenis pengodean produk lainnya, SKU tidak bersifat universal, melainkan dibuat secara individual oleh setiap pengecer. Pengecer memberikan kode unik untuk setiap item dalam perangkat lunak pengelolaan inventaris mereka. Kode ini dapat disesuaikan secara khusus dengan kebutuhan vendor atau pelanggan, sehingga memastikan pelacakan inventaris yang akurat.
Karena setiap pengecer membuat kumpulan SKU-nya sendiri, item identik dari produsen yang sama yang dijual oleh beberapa pengecer akan memiliki SKU yang berbeda di masing-masing pengecer.
Mengapa SKU penting bagi bisnis Anda?
Sistem SKU yang terstruktur dengan baik membuahkan hasil karena membantu tim menemukan produk lebih cepat, memilih pesanan dengan lebih sedikit kesalahan, dan menghabiskan lebih sedikit waktu mencari stok yang salah tempat. SKU juga membantu mengurangi biaya inventaris dengan mengungkap item yang lambat terjual atau ganda serta menyederhanakan penerimaan dan rekonsiliasi.
Bayangkan sebuah toko sepeda di lingkungan sekitar tempat setiap jenis ban dalam memiliki SKU unik. Sekali pindai di sistem point-of-sale (POS), harga yang tepat langsung tercatat dan ban dalam tersebut seketika terhapus dari inventaris. Kode yang sama muncul di dasbor manajemen, menandai ukuran populer mana pun yang hampir habis, sehingga mereka bisa menambah stok sebelum lonjakan pembeli keesokan harinya.
Kesalahan inventaris menguras keuntungan dengan cepat. Sebuah studi global IHL Group terbaru menemukan bahwa distorsi inventaris (yaitu kehabisan stok dan kelebihan stok) merugikan pengecer sekitar 6,5% dari penjualan setiap tahun, atau kira-kira $1,73 triliun. SKU memberikan visibilitas ke semua bagian inventaris Anda, sehingga Anda bisa memesan ulang item yang laris (atau berhenti memesan yang lambat terjual) sebelum keuntungan bocor.
Di mana menemukan nomor SKU
Berikut adalah tempat-tempat umum untuk menemukan nomor SKU:
- Kemasan produk. Balik kotak atau botol apa pun dan Anda akan melihat label barcode dengan SKU tercetak di dekatnya.
- Struk. Saat Anda menjual produk, struk sering mencantumkan nomor SKU di samping deskripsi produk.
- Label harga. Pengecer sering mencetak nomor SKU pada label harga, terutama untuk produk yang dijual di toko.
- Sistem pengelolaan inventaris. Sistem pengelolaan inventaris (inventory management system/IMS) dan sistem POS Anda menyimpan nomor SKU untuk setiap produk.
- Halaman produk. Pengecer online yang berjualan di Amazon atau eBay biasanya menyertakan nomor SKU di bagian detail produk pada halaman produk mereka.
Perlu dicatat bahwa meskipun nomor SKU dan barcode sering muncul berdampingan pada label harga, keduanya tidaklah sama. Barcode adalah format untuk mengodekan informasi. Pada label harga, barcode biasanya mewakili kode produk universal (universal product code/UPC) suatu produk, yang akan dibahas lebih lanjut dalam artikel ini.
Di mana SKU tersimpan dalam admin Shopify dan POS
Di Shopify, SKU disimpan pada tingkat varian produk. SKU dapat ditambahkan saat membuat produk atau dengan mengedit produk yang sudah ada. Setiap produk dan setiap varian memerlukan SKU uniknya sendiri.
Di admin Shopify, buka Produk, buka sebuah produk, lalu di bagian Varian pilih sebuah varian. Di bagian Inventaris varian tersebut, klik SKU untuk menambahkan atau mengedit SKU, lalu simpan.
Untuk katalog yang lebih besar, SKU dapat diperbarui secara massal menggunakan editor massal atau dengan mengimpor melalui CSV.
Di aplikasi seluler Shopify, ketuk ikon label harga. Ketuk produk yang ingin Anda edit. Buka bagian Varian, pilih sebuah varian, lalu edit SKU di bagian Inventaris dan simpan.
Cara membuat nomor SKU untuk produk
Karena unit penyimpanan stok dirancang untuk penggunaan internal, tidak ada aturan baku saat membuat sistem SKU Anda sendiri (juga dikenal sebagai arsitektur SKU). Namun, mematuhi beberapa konvensi dasar akan membantu menjaga nomor SKU Anda tetap kompatibel dengan perusahaan dan perangkat lunak eksternal, jika suatu saat Anda perlu bekerja sama dengan mitra pemenuhan pesanan.
SKU otomatis
Cara termudah menghasilkan nomor SKU adalah dengan menggunakan IMS atau sistem POS.
Sistem SKU ini melacak pesanan pelanggan dan status barang di gudang penyimpanan. Sebagian besar dilengkapi fitur pembuatan kode SKU otomatis, artinya setiap produk yang dimasukkan ke sistem Anda secara otomatis menerima nomor unik.
💡 Berikan barcode dan SKU produk dengan aplikasi Shopify.
SKU manual
Jika Anda memiliki toko ritel dengan katalog produk kecil dan perputaran inventaris rendah, Anda mungkin bisa membuat SKU secara manual sesuai kebutuhan.
Untuk melakukannya, Anda memerlukan sistem terkodifikasi untuk mengategorikan dan mengidentifikasi fitur utama produk Anda.
- Bagian pertama SKU mewakili fitur produk yang paling umum, seperti kategori produk atau pemasok.
- Karakter SKU berikutnya mewakili fitur yang semakin spesifik, seperti warna, ukuran, atau brand.
- Karakter SKU terakhir membentuk pengidentifikasi unik, yang menunjukkan jumlah produk dalam inventaris dan urutan pembelian atau pemrosesannya.
Bila memungkinkan, buatlah kode yang bermakna secara visual, seperti beberapa huruf pertama dari nama pemasok atau brand. Hal ini membuat SKU Anda lebih mudah dikenali dan diproses secara manual.
Selain itu, batasi SKU hingga 10 karakter atau kurang untuk menjaga nomor SKU Anda tetap kompatibel dengan perangkat lunak pihak ketiga jika suatu saat Anda beralih ke alat digital.
Templat skema SKU sederhana
Cara paling praktis membuat SKU tanpa generator adalah menggunakan pola atribut-plus-urutan. Dengan format yang konsisten, setiap SKU dapat dibaca secara sekilas dan tetap unik. Penting untuk mendefinisikan taksonomi produk Anda sebelum membuat SKU sehingga Anda tahu informasi apa yang perlu disampaikan.
Berikut adalah templat standar yang bisa digunakan. Perhatikan bahwa templat ini dapat berubah tergantung jenis bisnis yang Anda jalankan:
KAT-GAYA-WARNA-UKURAN-URUT
Berikut arti masing-masing beserta contohnya:
- KAT: Kategori (TSH = t-shirt, SHO = sepatu)
- GAYA: Gaya/model (SLIM, CREW, RUN)
- WARNA: Kode warna (BLK, WHT, RED)
- UKURAN: Ukuran atau atribut varian utama (M, 42, 250G)
- URUT: Urutan unik (001, 002)
Templat ini menjaga SKU Anda tetap mudah dibaca. Pastikan untuk menghindari karakter khusus, simbol, dan spasi. Buat SKU sesingkat mungkin agar tetap kompatibel dengan platform e-commerce Anda.
Contoh SKU berdasarkan industri dan jenis produk
SKU perlu menyampaikan banyak informasi secara sekilas. Empat contoh di bawah ini menunjukkan format SKU di berbagai industri.
- Pakaian
TSH-M-BLK-COT-001
- TSH = T-shirt (kategori umum)
- M = medium (ukuran)
- BLK = hitam (warna)
- COT = katun (bahan)
- 001 = nomor item berurutan untuk keunikan
Mulailah dengan atribut yang paling dulu dicari staf (kategori dan ukuran), lalu tambahkan warna dan bahan, dan akhiri dengan nomor seri singkat. Ini memudahkan staf toko Anda menemukannya dan memudahkan POS mencatatnya.
- Elektronik
LAP-HP-PRO-16-512-A1
- LAP = laptop
- HP = brand (HP)
- PRO = lini model
- 16 = RAM 16 GB
- 512 = SSD 512 GB
- A1 = kode batch internal
Pembeli gawai dan perwakilan penjualan paling peduli pada brand dan spesifikasi, sehingga SKU menonjolkan RAM dan penyimpanan tepat setelah model. Kode batch dua karakter di bagian akhir memungkinkan Anda melacak masalah penarikan produk dengan cepat dan mudah.
- Buku
BK-FIC-THR-JD-978055
- BK = buku
- FIC = fiksi (genre)
- THR = thriller (subgenre)
- JD = inisial penulis (John Doe)
- 978055 = enam digit terakhir ISBN
SKU ini mencerminkan cara toko buku independen menata judul berdasarkan genre lebih dulu, disusul penulis. Meminjam sebagian ISBN mencegah dua buku thriller dari penulis dengan inisial yang sama bertabrakan dalam sistem Anda.
- Kopi
COF-ARB-DK-250-003
- COF = kopi
- ARB = Arabika (biji)
- DK = sangrai gelap
- 250 = kemasan 250 gram
- 003 = batch sangrai ketiga hari itu
Barista bisa sekilas melihat kode untuk mengetahui jenis biji, tingkat sangrai, dan ukuran kemasan. Penghitung batch tiga digit di bagian akhir memastikan stok dirotasi sebelum cita rasanya mencapai puncak.
Cara memanfaatkan SKU untuk keuntungan Anda
1. Pantau tren dan tingkat inventaris
Setiap produk diberi nomor SKU unik, sehingga mudah untuk melacak masing-masing item. Anda bisa memantau produk secara detail, termasuk variasi seperti ukuran, warna, dan gaya.
Nomor SKU memungkinkan pelaporan inventaris yang akurat dan membantu Anda menyederhanakan pengelolaan inventaris barcode. Banyak pengecer menggunakan SKU untuk mengurangi inventaris fantom, mencegah kehabisan stok, dan memprediksi kapan mereka perlu memesan ulang.
Selain itu, sistem SKU memperbarui tingkat inventaris secara real time seiring terjadinya penjualan, sehingga memberikan data stok yang konsisten dan akurat. Anda bisa mengantisipasi tren masa depan, mengevaluasi penjualan (seperti varian produk mana yang paling dan paling tidak populer), dan mengoptimalkan tingkat stok untuk mencegah kekurangan atau kelebihan stok.
2. Hitung titik pemesanan ulang
Dengan menggunakan data SKU, Anda bisa memantau status produk dan menghitung titik pemesanan ulang, yaitu momen ketika Anda perlu memesan stok pengganti. Ini biasanya terjadi ketika tingkat inventaris Anda turun ke atau di bawah angka yang telah ditentukan.
Dengan melacak seberapa cepat setiap SKU terjual dalam periode tertentu, Anda bisa memprediksi kapan sebaiknya memesan ulang dari pemasok. Studi menunjukkan sistem pengisian ulang otomatis dapat mengurangi kehabisan stok secara signifikan.
💡 Fitur pengelolaan inventaris Shopify secara otomatis menghitung titik pemesanan ulang berdasarkan waktu tunggu pemasok, sehingga Anda tidak akan kehabisan SKU paling populer.
3. Prakirakan permintaan dan penjualan
Menggunakan sistem SKU juga meningkatkan akurasi prakiraan permintaan dan penjualan. Jalankan data SKU Anda melalui alat analisis e-commerce untuk menjawab pertanyaan seperti:
- Berapa banyak staf yang saya butuhkan di lantai toko selama musim tertentu?
- Berapa banyak inventaris yang harus saya siapkan untuk akhir pekan?
- Berapa besar penggajian yang bisa ditanggung arus kas saya secara musiman?
Jika data SKU Anda menyoroti item yang penjualannya rendah, Anda bisa memantau penjualan dan mengurangi inventaris sesuai kebutuhan. Ini memastikan Anda memenuhi permintaan pelanggan tanpa mengunci uang tunai pada stok mati.
4. Rencanakan tampilan produk
Arsitektur SKU yang dirancang dengan cermat menyoroti item yang paling dan paling tidak populer di sebuah toko. Cara lain memanfaatkan informasi ini adalah dengan membuat tampilan produk dan mengambil keputusan visual merchandising berdasarkan data SKU.
Misalnya, Anda bisa mengidentifikasi item bermargin tinggi yang kurang berkinerja dan menempatkannya sejajar mata di rak toko Anda, yang menurut studi dapat mendongkrak penjualan. Jika Anda menjalankan bisnis e-commerce, Anda bisa menampilkannya secara menonjol di halaman utama website Anda.
5. Upsell dan cross-sell produk
Taktik cross-selling dapat membantu meningkatkan penjualan. Data SKU juga bisa dimanfaatkan di lantai penjualan atau dalam checkout e-commerce.
Misalnya, SKU memungkinkan cross-selling dan rekomendasi produk. Jika seorang pelanggan membeli laptop, data SKU secara otomatis dapat memicu situs e-commerce Anda (atau seorang pramuniaga di toko) untuk menyarankan item yang kompatibel seperti tas laptop atau mouse nirkabel, sehingga meningkatkan pengalaman belanja pelanggan dan mendongkrak penjualan Anda.
Jika suatu produk kehabisan stok, SKU memudahkan staf ritel atau toko online untuk merekomendasikan produk serupa.
6. Tingkatkan pengalaman pelanggan
Karena tidak ada dua produk yang memiliki nomor SKU sama, SKU sering menjadi cara paling andal bagi pengecer untuk mengidentifikasi item tertentu atau pesanan pelanggan. Ini juga membuat SKU bermanfaat untuk layanan dan dukungan pelanggan.
Selain itu, karena SKU membantu Anda melacak inventaris, Anda bisa meminimalkan risiko inventaris yang menyumbang pengalaman ritel yang buruk. Anda tahu persis berapa banyak inventaris yang tersedia, sehingga Anda punya cukup waktu untuk menambah stok item yang laris sebelum pembeli mengunjungi toko Anda untuk membelinya.
Praktik terbaik untuk pengelolaan SKU
Gunakan sistem pengelolaan SKU
Sistem pengelolaan SKU adalah tempat untuk menyimpan nomor SKU Anda dan mengaitkannya dengan produk.
Shopify, misalnya, memiliki kolom SKU untuk setiap halaman produk, bahkan mendukung SKU varian, seperti kode unik untuk setiap ukuran t-shirt. Data ini disatukan di seluruh POS dan platform e-commerce Anda, sehingga memungkinkan pelacakan inventaris dan pemenuhan pesanan yang akurat di berbagai saluran penjualan.
"Dulu saya menghabiskan setidaknya empat jam untuk menghitung inventaris secara manual setiap bulan, dan saya selalu harus memastikan platform kami tersinkronisasi dengan benar," kata Mandalyn Renicker, pemilik Offbeat Bikes.
"Saya tidak perlu melakukan itu lagi, karena sistem inventaris Shopify sangat andal dan mudah dikelola. Saya juga menyelesaikan penagihan layanan di akhir setiap hari lebih cepat dari yang pernah bisa saya lakukan dengan Square, yang menurut saya karena antarmuka Shopify memang jauh lebih mudah digunakan."
Jaga konsistensi
Buat kode Anda sederhana dan mudah dipahami, serta pastikan SKU Anda dibuat secara konsisten di seluruh katalog produk Anda.
Terapkan hierarki logis dalam SKU Anda untuk penataan yang mudah. Ini berarti menggunakan struktur dan format yang konsisten, sehingga lebih mudah dipahami untuk keperluan pengelolaan inventaris.
Latih staf tentang cara menggunakan SKU
Karyawan ritel berinteraksi dengan SKU setiap hari. Libatkan mereka saat membuat nomor SKU baru atau menghentikan produk untuk melatih mereka tentang proses pengelolaan SKU Anda. Misalnya, apakah mereka tahu bahwa "EV" adalah kode untuk pemasok Eastern Vines?
Hindari angka nol atau karakter khusus
Angka nol bisa terlewat oleh sebagian perangkat lunak ritel atau tertukar oleh karyawan dengan huruf O, sehingga menyebabkan kebingungan saat memasukkan SKU.
Demikian pula, karakter khusus, seperti !, @, atau &, dapat mengganggu sistem perangkat lunak tertentu dan sebaiknya dihindari dalam kode SKU.
Definisikan fitur produk populer
Bantu tim penjualan Anda dengan menggunakan nomor SKU untuk menyoroti fitur produk yang populer. Misalnya, jika Anda pengecer pakaian, Anda mungkin menyadari bahwa warna, ukuran, atau gaya tertentu lebih laku daripada yang lain. Dengan menggunakan nomor SKU untuk melacak atribut ini, Anda bisa lebih memahami preferensi pelanggan dan menyesuaikan inventaris Anda.
Melacak atribut ini dengan SKU memastikan Anda menyediakan campuran produk yang tepat untuk memenuhi permintaan pelanggan.
Perbarui SKU secara berkala
Seiring perubahan penawaran produk Anda, SKU Anda pun harus berubah. Perbarui SKU saat memperkenalkan fitur produk baru atau menghentikan produk.
Gunakan data SKU untuk meningkatkan penjualan
Gunakan data SKU untuk mengambil keputusan bisnis. Misalnya, Anda bisa menggunakan data penjualan SKU untuk menentukan produk mana yang akan dipromosikan atau didiskon, atau data inventaris untuk menghitung titik pemesanan ulang dan menghindari kehabisan stok.
Anda juga bisa melacak SKU untuk memantau tren penjualan dan tingkat inventaris. Melakukannya memberikan wawasan berharga tentang produk mana yang laku dan mana yang tidak, sehingga membantu Anda mengambil keputusan pengelolaan inventaris yang tepat.
Strategi SKU tingkat lanjut untuk bisnis yang berkembang
Analisis data SKU
Jalankan data SKU melalui alat business intelligence (BI) untuk memahami metrik profitabilitas di berbagai lini produk dan mengalokasikan inventaris secara lebih efektif. Sebuah jaringan ritel di Eropa menggunakan rasionalisasi SKU bertenaga AI untuk menghilangkan 200 item berhasil rendah, sehingga menghasilkan tambahan margin sebesar €30 juta dalam satu musim.
Contoh lain, jika Toko A menjual 15 hoodie merah per hari tetapi Toko B hanya menjual dua, analisis data SKU menandai ketidakseimbangan ini sehingga Anda bisa memindahkan surplus inventaris alih-alih membuat pesanan pembelian baru.
Anda bisa dengan mudah menarik data tingkat SKU dari toko Anda menggunakan AI Shopify Sidekick dengan perintah seperti:
- Berapa margin kotor per SKU untuk 90 hari terakhir?
- SKU mana yang memiliki tingkat perputaran tahunan di bawah dua tetapi mengunci lebih dari $5.000 dalam inventaris?
- Tampilkan daftar SKU yang jumlah hari pasokannya melebihi waktu tunggu sebesar 50% atau lebih.
Hentikan SKU yang tidak laku dan fokuskan upaya pada kelompok yang menghasilkan sebagian besar margin Anda.
Otomatisasi SKU
Pengelolaan inventaris otomatis merupakan kunci bagi brand yang sedang berkembang. Beberapa cara mengotomatiskan proses SKU Anda antara lain:
- Gunakan templat untuk menghasilkan SKU. Terapkan atribut logis (misalnya KAT-UKURAN-WARNA-URUT) agar perangkat lunak bisa menyusun SKU secara otomatis saat varian baru dirilis.
- Picu pembaruan siklus hidup. Perbarui status SKU secara otomatis (tidak aktif, akhir masa pakai) ketika tingkat penjualan turun di bawah ambang batas.
- Terapkan kontrol versi. Kunci pengeditan SKU di balik izin berbasis peran. Simpan daftar "jangan gunakan ulang" agar kode yang sudah dipensiunkan tidak muncul kembali dalam sistem Anda.
Penjualan internasional
Begitu Anda mengirim melintasi perbatasan, pengelolaan SKU yang buruk cepat menjadi mahal. Klasifikasi dan dokumentasi yang salah dapat menyebabkan penundaan yang merugikan.
Dengan berakhirnya pengecualian de minimis bebas bea Amerika Serikat untuk paket dari Tiongkok dan Hong Kong pada Mei 2025, setiap pengiriman kini memerlukan klasifikasi tarif lengkap dan pembayaran bea di muka. Membangun SKU yang konsisten secara global yang terkait dengan GS1 GTIN, kode HS, dan deskripsi yang akurat memastikan paket bergerak secara efisien.
Shopify Managed Markets mengintegrasikan seluruh alur kerja ini langsung ke admin Anda. Managed Markets bertindak sebagai layanan merchant-of-record, secara otomatis melampirkan kode HS, memungut dan menyetorkan bea serta pajak saat checkout, dan mencetak formulir bea cukai yang sesuai ketentuan.
Kesalahan SKU umum yang harus dihindari
Bahkan sistem SKU dengan niat terbaik pun bisa berantakan jika praktik harian tidak dikendalikan. Berikut adalah kesalahan umum yang harus dihindari:
- Konvensi penamaan yang tidak konsisten. Menggunakan format dadakan atau khusus departemen membuat SKU sulit dibaca, dicari, dan diperluas seiring berkembangnya katalog Anda. Mulailah dengan struktur yang jelas, seperti Kategori-Gaya-Ukuran, agar setiap anggota tim menafsirkan kode dengan cara yang sama.
- Menggunakan kode yang tidak bermakna. Rangkaian angka dan huruf acak mengharuskan staf menghafal pencarian, yang menyebabkan kesalahan pengambilan barang. Gunakan petunjuk seperti jenis produk, warna, atau ukuran agar karyawan bisa mengurai SKU secara sekilas.
- Membuat struktur SKU terlalu panjang atau terlalu pendek. Kode tiga karakter tidak memiliki detail yang dibutuhkan untuk pelaporan inventaris yang akurat, sementara kode 20 karakter memperlambat pemindaian dan membuat label penuh sesak. Targetkan delapan hingga 12 karakter untuk keseimbangan optimal.
- Tidak meninjau/memperbarui SKU secara berkala. Ketika ragam produk bertambah atau aturan penamaan berubah, SKU lama bisa terduplikasi atau bertentangan dengan yang baru. Jadwalkan audit berkala untuk memensiunkan kode usang dan menyelaraskan produk baru dengan skema Anda.
- Mengacaukan SKU dengan kode lain. SKU mengidentifikasi stok internal, sementara barcode, UPC, dan EAN memenuhi tujuan eksternal atau regulasi. Menukar-nukarnya dapat menyebabkan ketidakcocokan data dan masalah rekonsiliasi inventaris yang mahal.
SKU vs. kode ritel lainnya
Nomor SKU bukan satu-satunya kode produk yang digunakan pengecer. Berikut cara membedakannya satu sama lain.
SKU vs. kode UPC
Pengecer menggunakan SKU dan UPC secara bersamaan, tetapi keduanya tidak sama. SKU untuk kebutuhan pelacakan internal, dan UPC bersifat universal.
UPC, atau Kode Produk Universal, adalah bentuk identifikasi produk lain yang tersebar luas. SKU dan UPC terlihat mirip dan digunakan secara bersamaan oleh pengecer, tetapi fungsinya sedikit berbeda.
Unit penyimpanan stok mengidentifikasi produk unik beserta ciri-cirinya, sementara Kode Produk Universal mewakili produsen suatu produk (enam angka pertama) dan nomor item-nya (lima digit berikutnya). Kode UPC juga memuat digit pemeriksa (angka terakhir), yang berfungsi sebagai mekanisme validasi.
Berikut rincian bermanfaat tentang perbedaan antara SKU dan UPC:
| SKU (unit penyimpanan stok) | UPC (Kode Produk Universal) |
|---|---|
| Digunakan oleh masing-masing toko ritel | Digunakan oleh banyak toko dan rantai pasok |
| Antara delapan dan 12 karakter | Selalu 12 karakter |
| Mengidentifikasi ciri produk | Mengidentifikasi produsen dan nomor item |
| Alfanumerik | Numerik |
| Pengecer membuat arsitektur SKU | Diterbitkan oleh GS1 |
SKU vs. kode GTIN
Nomor Item Perdagangan Global (Global Trade Item Number/GTIN) bekerja mirip dengan kode UPC. GTIN adalah kode global 13 atau 14 digit yang diberikan oleh organisasi internasional nirlaba Global Standards 1 (GS1) dan disimpan di basis data internasional. Anggap saja GTIN seperti sistem SKU global yang digunakan pengecer di seluruh dunia untuk mengodekan produk mereka.
Jika Anda menjual kembali produk populer yang sudah ada, kode GTIN mungkin sudah diberikan pada inventaris fisik Anda. Kode GTIN sering tercetak pada kemasan produk.
SKU vs. barcode
Barcode adalah sekumpulan garis hitam yang terdapat pada label atau kemasan produk, yang dipindai pengecer saat menyelesaikan pembelian pelanggan. Istilah "barcode" sering dipakai secara bergantian dengan "UPC," karena sebagian besar barcode mengodekan nomor UPC.
Berbeda dengan nomor SKU, ketika toko ritel membuat barcode, mereka tidak membuat UPC baru. Barcode diberikan pada semua produk identik, terlepas dari tempat produk itu dijual. Namun, pengecer boleh mencetak label produk yang mencantumkan barcode UPC sekaligus nomor SKU toko mereka.
SKU vs. nomor seri
Nomor seri melacak produk untuk klaim garansi, perbaikan, dan penarikan produk. Nomor seri digunakan produsen untuk melacak batch produk dan mengidentifikasi unit cacat. Nomor seri unik untuk setiap unit, sedangkan SKU digunakan bersama di antara banyak unit identik.
SKU vs. ASIN
ASIN (Amazon Standard Identification Number) adalah pengidentifikasi 10 karakter yang diberikan oleh Amazon. Setiap produk yang terdaftar di Amazon memiliki ASIN unik, yang membantu Amazon melacak produk dalam katalog e-commerce-nya dan mengoptimalkan halaman untuk pencarian.
Buat nomor SKU untuk toko Anda
Semakin Anda menyesuaikan arsitektur SKU, semakin baik Anda bisa memanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan pelanggan Anda. Dengan memahami fitur produk mana yang penting bagi Anda, vendor, dan pelanggan Anda, Anda bisa merancang arsitektur SKU yang membantu mengelola inventaris secara efisien dan menskalakan bisnis Anda.
Siap mengendalikan inventaris Anda dan meningkatkan profitabilitas? Mulailah membuat nomor SKU yang efisien untuk toko Anda hari ini dengan alat pengelolaan inventaris Shopify yang canggih.
FAQ nomor SKU
Bagaimana cara mendapatkan nomor SKU untuk produk saya?
Sistem pengelolaan inventaris Anda seharusnya memiliki kolom SKU tempat Anda bisa mengambil nomor SKU unik suatu produk. Jika Anda belum memiliki nomor SKU yang ditetapkan, gunakan generator SKU gratis. Beberapa aplikasi tersedia di Shopify App Store.
Bisakah saya membuat nomor SKU sendiri?
Anda bisa membuat nomor SKU sendiri untuk suatu produk. Anda bisa melakukannya secara manual (yaitu menggunakan sistem kode alfanumerik), atau secara otomatis menggunakan aplikasi generator SKU.
Apakah produk saya memerlukan SKU?
Anda tidak harus memberikan nomor SKU untuk setiap produk, tetapi SKU menyederhanakan pengelolaan inventaris, pemenuhan pesanan, dan analisis penjualan, sehingga menjadikannya alat yang bermanfaat bagi pengecer.
Apakah SKU merupakan kode produk?
SKU merupakan kode produk, digunakan untuk melacak inventaris dan memenuhi pesanan. Namun, SKU berbeda dari Kode Produk Universal (UPC), yang diterbitkan GS1 untuk basis data global pengidentifikasi produk yang digunakan oleh semua pengecer.
Apakah setiap item memiliki SKU?
Setiap item yang Anda jual sebaiknya memiliki nomor SKU. Kode ini membantu Anda melacak inventaris, memenuhi pesanan pelanggan, dan melaporkan penjualan.
Bisakah dua produk memiliki nomor SKU yang sama?
Nomor SKU unik untuk setiap produk. Namun, dua produk bisa memiliki barcode atau nomor UPC yang sama.

